Jakarta punya proyek baru untuk mengatasi banjir. Setelah selesai membangun Kanal Banjir Timur (KBT) pada 6 Januari 2010 Desember, kini sebuah tanggul atau dam raksasa bakal dibangun di teluk Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyebutnya sebagai Giant Sea Wall.
Pembangunan dam raksasa ini ditujukan untuk mengantisipasi ancaman Jakarta tenggelam. Sebab, penurunan muka tanah (land subsidence) telah terjadi di sebagian wilayah Jakarta.
Pembangunan ini agar tak lagi terjadi banjir rob di wilayah Jakarta Utara. Demikian diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Rabu (26/1) di Balaikota, Jakarta. Foke memprediksikan 5 hingga 10 tahun mendatang, banjir di Jakarta akan semakin luar biasa. Pembangunan bendungan di Teluk Jakarta ini juga bertujuan mencegah bencana itu terjadi
Persoalannya, penurunan muka tanah Jakarta sudah terjadi sejak 1974 dan akan terus terjadi. Data terbaru 2010 menyebutkan sebanyak 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut. Data ini keluar berdasarkan hasil penelitian konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), sebuah studi persiapan untuk membuat tanggul raksasa di pantai utara Jakarta.
Yang lebih mengkhawatirkan, hasil penelitian itu menyebutkan dalam tempo 10-20 tahun ke depan, sekitar 50 persen wilayah Jakarta juga berada di bawah permukaan air laut.
Selain membangun bendungan raksasa, Jakarta juga akan mulai mendorong sistem polder jauh ke arah laut. Hal tersebut diakui Foke sudah banyak dilakukan di New Orleans, AS, dan Belanda. "Di wilayah reklamasi Ancol contohnya, harus diekstensifkan lagi, dimajukan, didorong ke depan laut. Ini merupakan bagian master plan penanggulangan banjir di Jakarta,
Data kuantitatif memaparkan sejak 1974-2010 ditemukan fakta telah terjadi penurunan permukaan tanah hingga 4,1 meter. Itu terjadi di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar