harga minyak di atas 102 dolar/barel

Kemarin harga minyak dunia masih tetap tinggi di perdagangan Asia, karena kondisi pasar dibawah tekanan dari krisis politik yang masih tetap berlangsung di mesir.kontrak utama new york, minyak mentah light sweet pengiriman maret ,naik 40 sen pada posisi 90,94 dolar pada perdagangan siang. sementara minyak mentah Brent North Sea penyerahan maret naik 33 sen menjadi 102,09 dolar per barel.

Pertamina sepertinya berusaha keras untuk memasarkan bahan bakar nonsubsidi Pertamax cs. Buktinya, baru dua hari menaikkan harga, Pertamina kembali menurunkan harga Pertamax cs.
      
Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan, usai menaikkan harga Pertamax cs per 1 Februari lalu, Pertamina memang melakukan evaluasi dan revisi. "Karena itu, harga Pertamax kita turunkan lagi," ujarnya Jumat (4/2).

Menurut Harun, untuk wilayah Jakarta, pada 1 Februari lalu Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax dari Rp 7.850 per liter menjadi Rp 8.050 per liter. Namun, per 3 Februari, harga Pertamax diturunkan kembali menjadi Rp 7.950 per liter. "Strategi ini ditempuh agar masyarakat tidak beralih ke premium," katanya.

Adapun harga Pertamax Plus yang pada 1 Februari lalu naik dari Rp 8.100 per liter menjadi Rp 8.450 per liter, pada 3 Februari kembali diturunkan menjadi Rp 7.950 per liter. Sedangkan Pertamina Dex yang pada 1 Februari naik dari Rp 8.450 per liter menjadi Rp 8.750 per liter.
    
Untuk wilayah Pertamina Unit Pemasaran (UPms) V Surabaya, harga Pertamax yang pada 1 Februari naik dari Rp 8.150 per liter menjadi Rp 8.350 per liter, pada 3 Februari kembali turun menjadi Rp 8.250 per liter. Sedangkan Pertamax Plus yang 1 Februari lalu naik dari Rp 8.300 per liter menjadi Rp 8.500 per liter, pada 3 Februari tidak mengalami perubahan.
    
Harun mengatakan, jika harga Pertamax di Jakarta naik ke Rp 8.050, maka selisih dengan harga Premium yang hanya Rp 4.500 per liter menjadi Rp 3.550 per liter. Besarnya selisih tersebut membuat Pertamina khawatir jika masyarakat yang selama ini sudah mengonsumsi Pertamax, kembali mengonsumsi Premium.

"Kami konsolidasi, membahas margin. Kami ingin berikan insentif kepada pelanggan supaya nantinya tidak banyak yang beralih ke Premium," ujarnya.

Selain pertimbangan tersebut, lanjut Harun, Pertamina juga tetap menggunakan perkembangan harga minyak dunia dalam penentuan harga bahan bakar nonsubsidi, baik Pertamax, Pertamax Plus, maupun Pertamina Dex.

Tapi, keputusan Pertamina untuk menurunkan harga Pertamax ini juga merupakan strategi untuk bersaing dengan kompetitor seperti Shell. Sebagaimana diketahui, di Jakarta, jika harga Pertamax masih tetap Rp 8.050 per liter, maka akan menjadi lebih mahal dibandingkan dengan BBM sejenis Pertamax, yakni Shell Super,yang dijual seharga Rp 7.950 per liter. Karena itu, dengan diturunkannya harga Pertamax, maka harganya menjadi sama.

0 komentar: